Anggoro Widjojo, Mengorek Luka Lama

Gambar

 

Oleh: Kristian Ginting

 

Penangkapan tersangka Sistem Komunikasi Radio Terpadu Anggoro Widjojo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi adalah prestasi juga sekaligus membuka kisah lama tentang Cicak vs Buaya.

Penangkapan ini bisa juga dianggap sebagai penegasan kesungguhan KPK dalam memberantas korupsi. Saat bersamaan kita juga bertanya-tanya apa sesungguhnya peran Anggoro dalam pusaran Cicak vsBuaya pada 2009.

Pandangan saya, ini merupakan prestasi KPK antara lain karena terus berupaya memburu tersangka yang menjadi buronan meski tak jelas rimbanya.

Beberapa tersangka yang berhasil dipulangkan KPK ke Indonesia adalah Nunun Nurbaeti dalam perkara suap cekpelawat, Muhammad Nazaruddin terpidana Wisma Atlet, Neneng Sri Wahyuni istriNazaruddin, terpidana korupsi PLTU Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Bila dibandingkan dengan Polri danKejaksaan Agung, tampaknya kesungguhan KPK masih lebih unggul. Lagi-lagi iniadalah pandangan subyektif saya. Di Kejaksaan Agung misalnya, dari 23 buron,kita hanya mendengar nama Sherny Kojongian dan Adrian Kiki Ariawan yangberhasil dipulangkan.

Keduanya terkait dengan kasusBantuan Likuiditas Bank Indonesia. Ini juga membutuhkan waktu yang sangatpanjang. Untuk kepolisian, tampaknya sedikit sekali buronan yang berhasildipulangkan ke Indonesia.

 
Kisah Lama
Untuk mengetahui bagaimanasesungguhnya kasus yang membelit Anggoro perlulah kiranya kita menengok kebelakang sejenak. Pada 22 Agustus 2008, Anggoro resmi dicekal KPK melaluiDitjen Imigrasi bersama 3 petinggi PT Masaro yakni Ir Putranefo A Prayugo,Anggono Widjojo dan David Angkawijaya.

Penerbitan surat cekal ini berdasarkan surat perintah penyidikan untuk kasus alih fungsi hutan menjadiPelabuhan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan dengan tersangka Ketua Komisi IV DPR Yusuf Erwin Faishal periode 2004 – 2009.

 
Pencekalan ini juga buntut daripenggeledahan KPK di kantor PT Masaro. Penggeledahan tersebut dilakukanlantaran penyidik menemukan jejak Yusuf di kantor Anggoro itu pada 22 Juli2008. Dalam penggeledahan itu, KPK menemukan fakta-fakta baru soal proyek SKRTyang ternyata penunjukan langsung.

 
Berdasarkan fakta itu, KPKmengkaitkan Anggoro dengan Faisal. Dalam dakwaan terhadap Faisal misalnya,Anggoro disebut memberi sejumlah uang senilai Rp 75 juta dan $Sin 60 ribu dolar atau setara Rp 500 juta.

 
Hampir setahun berlalu, kasus SKRTini tak kunjung dinaikkan ke tahap penyidikan. Pasalnya, Anggoro diduga telahmenyuap penyidik, deputi bahkan pimpinan KPK. Nilainya Rp 6 miliar.

 
Fakta ini didukung oleh cerita pengacara Anggoro, Bonaran Situmeang ketika itu. Menurutnya, setelahpenggeledahan di PT Masaro, seseorang bernama Ari Muladi mengaku orang suruhanKPK mendatangi adik Anggoro, Anggodo Widjojo. Dia menawarkan jasa untukmengkonfirmasi penggeledahan yang dilakukan KPK itu.

 
Sesuai janjinya, Ari Muladi menepatidan mengabarinya kepada Anggodo bahwa kasus SKRT yang melibatkan PT Masarotidak akan dilanjutkan. Tapi, Ari mengklaim pimpinan KPK meminta “perhatian”pemilik PT Masaro untuk kasus ini. Mendengar itu, Anggodo kaget, apalagi merekaberkeras tak melakukan perbuatan korupsi sebagaimana yang dituduhkan KPK.Anggodo meminta waktu untuk bermusyawarah dengan kakaknya.

 
Kesepakatan
Singkat cerita, terjadilahkesepakatan antara Anggoro dan Ari yang mengatasnamakan pimpinan KPK. Jumlahnyasekitar Rp 5,1 miliar. Faktanya Anggoro dan petinggi PT Masaro tetap dicekal.Inilah yang membuat Anggodo resah. Uang sudah digelontorkan tapi kasus tetapberjalan. Meski status Anggoro pada saat itu belum menjadi tersangka. Diamenjadi tersangka pada Juni 2009. Hampir setahun dari penggeledahan danpencekalan. Dan diketahui saat itu sudah berada di Singapura. Itu sebabnya,Anggodo protes dan mencari jalan untuk mengetahui duduk perkaranya.

 
Untuk meredam protes itu, Ari Muladimenunjukkan surat pencabutan cekal atas nama Anggoro yang telah dibikin KPKkepada Anggodo. Ini sebagai pertanggungjawabannya kepada Anggodo karena telahmenerima uang dan berjanji membantu Anggoro. Dia wara-wiri ke KPK dan kerapbertemu Ade Raharja. Dari tangan Ade pula Adi memperoleh pencabutan surat cekalitu.Terakhir diketahui surat pencabutan cekal itu palsu. Hingga kini surat cekal palsu itu tetap menjadi misteri.

 
Setelah mengetahuinya, Anggodo mencari jalan lain. Melalui seorang jaksa di Kejaksaan Agung, Irwan Nasution, diadiperkenalkan kepada Eddy Soemarsono, orang yang disebut-sebut dekat denganAntasari Azhar, Ketua KPK. Mereka berkenalan dan berbicara di ruang kerjaIrwan. Dari sinilah awal mula peran Eddy dan Antasari terlibat dalam kasus itu.Kasus ini membesar bak bola salju dan ujungnya adalah Cicak vs Buaya itu.

 
Eddy yakin betul uang Anggoro lewat Ari Muladi telah sampai kepada pimpinan KPK. Bahkan sudah dilunasi pada 22 Agustus 2008. Keyakinannya itu antara lain atas keterangan Ari yang memberikanlangsung kepada Deputi Penindakan KPK Ade Raharja yang mendampingi M Yasin direstoran Taiwan, Belagio, Mega Kuningan, Jakarta. Alat buktinya pun ada yaknirekaman kamera pengintai (CCTV). Itu sebabnya Eddy meyakini perkara Anggoro inibukanlah penyuapan tapi pemerasan oleh pimpinan KPK.

 
Peristiwa penggeledahan danpencekalan terhadap Anggoro ini, kata Eddy, diterjemahkan sebagaipenyalahgunaan wewenang. Karena penggeledahan di PT Masaro sama sekali takterkait dengan kasus yang menimpa Yusuf, terdakwa kasus korupsi Tanjung Api-Api.Dalam dakwaan Yusuf, Anggoro bahkan bukan saksi kasus itu. Karena memang takterlibat. Ini merupakan bukti yang tak terbantahkan.

 
Menurut Eddy, bila KPK memang hendakmenjerat Anggoro dalam kasus SKRT, mestinya Desember 2008 atau Januari 2009sudah bisa ditetapkan sebagai tersangka. Apalagi KPK telah memiliki bukti awalyang cukup. Dengan begitu, orang akan percaya pimpinan KPK tidak menerima uang.Namun, faktanya Anggoro menjadi tersangka setelah hampir setahun kemudian.Itupun setelah Antasari mengeluarkan pengakuan atau testimoninya.Penyalahgunaan wewenang oleh pimpinan KPK itu sanksinya pidana.

 
Akhir Pelarian
Semua keterangan ini sudah disampaikan kepada Antasari sejak 8 September 2008. Berbekal keterangan itupula Antasari merancang pertemuan dengan Anggoro di Singapura danmerekamnya.

 
Dari percakapan itu, Anggoromenjelaskan telah menggelontorkan uang kepada KPK antara lain Bibit SamadRianto, Chandra M Hamzah, M Yasin dan Ade Raharja lewat Ari Muladi. MenurutAntasari, kata Eddy, hanya Haryono Umar yang tidak menerima uang. Antasari jugatelah menyampaikan laporan itu kepada Haryono. Itu sebabnya sulit bagi Antasaridan Haryono mengambil tindakan. Karena pimpinan KPK memiliki kedudukan yangsama.

 
Penyalahgunaan dan pemerasan olehpimpinan KPK inilah yang kemudian dilaporkan kepada polisi pada Agustus 2009.Dengan alat bukti yang dimiliki polisi, Bibit dan Chandra ditetapkan sebagaitersangka. Bersamaan dengan itu kasus bocornya penyadapan terhadap dugaan kasuspenyuapan nasabah Bank Century sedang hangat.

 
Dalam proses penyadapan itu, nomor telepon seluler Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji ikut tersadap, karenaberhubungan dengan pihak nasabah Bank Century. Seolah-olah karena hal ini,Susno membalas dan menjadikan kedua pimpinan itu menjadi tersangka. Inilah yangkemudian dikenal dengan peristiwa Cicak vs Buaya. Padahal bila dicermati, ini merupakan 2 kasus yang berbeda.

 
Selain soal Susno, penyadapanterhadap Anggodo yang dibuka di Mahkamah Konstitusi ikut menambah hiruk pikukkasus itu. Dalam sadapan tersebut ada banyak nama yang muncul dan tentu sajamembuat publik terkejut. Semisal penyebutan nama Wakil Jaksa Agung Abdul HakimRitonga, Jaksa Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto bahkan seseorang menyebutkan RI 1.

 
Semua nama-nama ini menguap ditelan masa. Tak ada kabar dan tak ditelusuri sama sekali. Ujung kasus ini, Anggododan Ari Muladi divonis bersalah karena melakukan percobaan penyuapan. SementaraPresiden Direktur PT Masaro Putranefo Alexander divonis 8 tahun dalam kasusSKRT. Kasus ini juga yang membuat Anggoro menjadi tersangka.

 
Setelah sekian tahun tak pernah dibicarakan, pelarian Anggoro berakhir setelah ditangkap Public Security Beureau di perbatasan antarnegara Shenzhen Wan, China dengan Hongkong pada 29Januari 2014. Anggoro tidak melawan dan juga tidak ditemani keluarganya. Dia tampaknya pasrah. Setelah menghubungi beberapa pihak, Anggoro lalu diserahkan ke ataseimigrasi di Ghuangzho. Dari sana dia dikawal petugas termasuk petugas KPK dandibawa dengan pesawat Garuda ke Indonesia.

 
Dari penangkapan ini, kita tentu berharap misteri-misteri yang belum terkuak bisa dituntaskan oleh KPK. Selain kasus yang membelit Anggoro, kita juga berharap agar kasus yang pernah membelit pimpinan KPK itu terang benderang. Jika tidak, saya yakin itu akan menjadi “borok” yang menghantui KPK sepanjang waktu. Dan orang sulit mempercayai KPK sepenuhnya.

 

Bisa juga dibaca di: http://publik.teraspos.com/read/2014/02/04/77302/anggoro-widjojo-mengorek-luka-lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s