Kita Harus Tolak Penaikan Harga BBM

Oleh: Kristian Ginting

 

Menolak rencana penaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi adalah suatu keharusan. Selain karena melanggar UUD 1945, juga karena alasan pemerintah yang tak masuk akal. Antara lain misalnya, kesenjangan harga dikatakan menjadi  pemicu terjadinya penyimpangan dan penyelewengan distribusi BBM.

 

Dengan alasan itu maka harga BBM harus dinaikkan. Alasan yang sesungguhnya mencerminkan kegagalan pemerintah dalam melakukan pengawasan. Karena kegagalan pemerintah itu, masyarakat mesti menanggung bebannya. Ya, yang gagal pemerintah, tapi rakyatlah yang menanggung akibatnya.

 

Alasan lainnya yang kerap disampaikan pemerintah adalah berkait dengan anggaran subsidi energi terutama BBM yang membebani APBN. Besaran subsidi di APBN 2013 senilai Rp 317,2 triliun. Angka ini meliputi subsidi energi dan non-energi. Untuk energi  dialokasikan sebesar Rp 274,7 triliun. Angka itu juga masih dibagi lagi peruntukkannya. Untuk subsidi BBM sebesar Rp 193,8 triliun dan sisanya Rp 80,9 triliun untuk listrik.

 

Angka subsidi itulah yang oleh pemerintah dijadikan alasan untuk menaikkan harga BBM. Karena itu tadi, subsidi BBM itu dianggap membebani APBN 2013. Benarkah demikian? Mari kita perhatikan data terbaru yang diajukan pemerintah di RAPBN-Perubahan 2013, terutama benarkah penaikan harga BBM pada akhirnya menghemat dan tidak membebani APBN?

 

Pemerintah dalam RAPBN-P 2013 menurunkan target penerimaan sebesar Rp 41 triliun dari awalnya sebesar Rp 1.529 triliun. Sedangkan alokasi belanja meningkat Rp 39 triliun, menjadi Rp 1.722 triliun. Dengan begitu, defisit anggaran perubahan membengkak menjadi Rp 233 triliun dari semula cuma Rp 153 triliun.

 

Dari angka di atas malah menunjukkan, niat penghematan melalui pengurangan subsidi BBM yang digagas pemerintah justru meningkatkan defisit anggaran. Anehnya lagi, subsidi energi tetap melonjak. Padahal, pemerintah berencana menaikkan harga eceran bensin menjadi Rp 6.500, lalu solar menjadi Rp 5.500 per liternya. Namun, anggaran untuk subsidi BBM tetap saja bertambah sebesar Rp 16,11 triliun. Pun demikian untuk subsidi listrik, meningkat sebesar Rp 19,04 triliun, walau tarif listrik sudah naik sebesar 15 persen tahun ini.

 

Soal ini tentu pemerintah tetap punya alasan. Karena, kalau tidak begitu, bukan pemerintah namanya. Lewat Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Herry Purnomo mengatakan, penaikan anggaran belanja sebesar Rp 39 triliun itu disebabkan pemenuhan kebutuhan dana subsidi energi dan dana kompensasi penaikan harga BBM.

 

Kacau Balau

Kebijakan BBM yang kacau balau tersebut tidak hanya kali ini saja terjadi. Mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur, Kwik Kian Gie juga sudah kerap melontarkan kritik atas kekacauan kebijakan BBM. Tahun lalu Kwik menuliskan bagaimana elite bangsa ini sudah tersesat pikirannya selama puluhan tahun tentang segala sesuatu yang ada kaitannya dengan kebijakan menentukan harga BBM.

 

Tahun ini pemerintah menjadikan kesenjangan harga dan anggaran subsidi membebani APBN sebagai alasan untuk menaikkan harga BBM. Sementara tahun lalu, Kwik menuliskan pemerintah mengatakan kalau harga minyak mentah di pasar internasional lebih tinggi dari harga minyak mentah yang terkandung dalam bensin premium, pemerintah Indonesia memberi subsidi kepada rakyatnya.  ‘Subsidi’ yang mereka artikan sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Karena jumlahnya besar, uang tunai ini tidak dimiliki oleh pemerintah, sehingga APBN jebol.

 

Dalam tulisannya itu, Kwik membuat analisa berdasarkan Nota Keuangan Tahun 2012. Di situ tercantum anggaran subsidi untuk BBM sebesar Rp 123,60 triliun. Sedangkan dalam pos-pos penerimaan misalnya pajak penghasilan migas sebesar Rp 60,9156 triliun, lalu penerimaan sumber daya alam migas sebesar Rp 159,4719 trilyun. Total penerimaan dari dua pos ini sebesar Rp 220,3875.

 

Belum lagi, tulis Kwik, sumber daya alam migas yang masuk dalam pos pemasukan uang tunai pemerintah pusat yang diteruskan ke pemerintah daerah atas dasar bagi hasil dalam otonomi keuangan daerah sebesar Rp 32,2762 triliun. Meskipun pos anggaran ‘subsidi’ itu dimasukkan masih ada kelebihan uang Rp 64,5116 triliun. Dan bila ditambahkan dengan penerimaan tunai pemerintah pusat itu, kelebihan uang tunai menjadi Rp 96,7878 trilyun.

Karena itu, Kwik berkesimpulan, pemerintah tidak benar mengeluarkan uang tunai sebesar Rp 123,60 triliun untuk membayar ‘subsidi’ BBM.

 

Sikap

Dengan alasan di atas maka tak ada alasan apapun mendukung rencana pemerintah menaikkan harga BBM itu. Sikap ini bukan mengekor para politikus yang ada di Senayan. Sikap ini lebih karena kesadaran kita sebagai rakyat. Betapa kita sangat mengharapkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat. Setidaknya mau memberi subsidi kepada rakyat terutama untuk sektor energi seperti BBM.

 

Kita juga tak ingin lagi dipertontonkan ‘kisah-kisah heroik’ para politikus di DPR yang seolah-olah berhadap-hadapan karena masalah itu. Seolah-olah ada partai yang begitu peduli terhadap rakyat. Padahal penolakan yang mereka lakukan seperti PKS, PDI Perjuangan dan lain-lain itu tak lebih hanya karena ingin menaikkan citra mereka di masyarakat. Demi kepentingan partai mereka. Bukan rakyat.

 

Karena itu, cukuplah tahun lalu saja adegan yang membosankan seperti lakon Perang Kembang di pewayangan yang harus dimainkan itu dipertontokan kembali kepada masyarakat. Adegan yang tak penting, yang tidak mempengaruhi jalan cerita seperti yang dilakukan PKS saat ini.

 

Menolak kenaikan harga BBM dengan bohong-bohongan demi sebuah citra. Seperti tokoh Perang Kembang,  Cakil, raksasa jelek bergaya jagoan, nyerocos tanpa jeda dan jago debat itu persis dengan yang dilakukan PKS saat ini. Namun, akhir cerita, publik tahu PKS akan kalah dan tak ada hasilnya juga bagi rakyat. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s