Bermimpi

Oleh : Kristian Ginting

“Argkh…,” pekikku. Aku hanya bisa diam seribu bahasa. Aku terperangah, diam membisu. Terperenjat oleh seseorang lelaki yang lewat di depanku. Lelaki separoh baya. Namun, masih saja terlihat gagah. Rambut ikal, cenderung keriting. Berkulit hitam, pembawaannya tenang dan tatapan matanya tajam. Langkahnya tegap. Terlihat betul latar belakang militer dari sosok itu. Aku sering melihatnya di televisi dan membaca beritanya di media cetak beberapa waktu silam. Dia duduk sebagai terdakwa dalang dari pembunuhan berencana. Bahkan sebelum tertangkap dia diperkirakan kabur ke luar negeri. Namun, akhirnya dia bersama dengan pengacaranya ke markas kepolisian  untuk menyerahkan diri.

Belakangan dia akhirnya di vonis bebas murni oleh pengadilan atas kasus pembunuhan aktivis HAM di negeri ini. Tidak heran dia begitu tenang berjalan di depan umum. Saat itu, dia ada di hadapanku. Aku terkesima. Tidak bisa berkata apapun. Aku pun mencoba mengingat namanya. “Ya, namanya M. Pr,” kataku dalam hati. “Enak betul dia,” pikirku. Melenggang bebas dan merasa tidak bersalah sedikitpun. Malah sekarang mencalonkan diri menjadi salah satu anggota legislatif.

Dia bak dewa yang disambut kedatangannya di sebuah kantor partai yang berlogo burung Garuda. Semua sibuk menyambut kedatangannya. Dengan langkah yang gontai dia melangkah masuk ke kantor partai itu. Lalu, dia hilang dari pandangan mataku. Meski aku terus menguntitnya memasuki gedung itu. Tak lama, aku pun berlalu dan pergi meninggalkan kantor partai dengan logo burung Garuda itu.

Lantas, aku berpikir, bayangkan bila dia menjadi anggota DPR. “Jangan-jangan setiap anggota masyarakat yang berdemo akan dibunuh seperti M aktivis HAM itu,” pikirku. Tapi entahlah negeri ini. Masalah hukum tetap saja tidak pernah bisa ditegakkan. Bahkan hukum di negeri ini, tidak lebih dari seperti barang dagangan yang bisa diperjual belikan. “Atau jangan-jangan mereka takut terhadap kekuatan latar belakang sosok itu,” pikirku. Dan itu menjadi alasan yang masuk akal. Karena kekuatan militer sangat lama berkuasa di negeri ini. Sehingga mereka menguasai di setiap sudut pemerintahan negeri ini.

Tidak hanya M. Pr, masih banyak lagi jendral-jendral yang dianggap terlibat pelanggaran HAM masih bebas di negeri ini. Malah dari beberapa jendral itu, mencalonkan diri untuk menjadi presiden. Inilah realitas sosial dan politik negeri ini. Sejarah yang merenggut nyawa manusia terlalu mudah terlupakan. Hanya karena bantuan ekonomi yang bersifat instan yang diberikan tokoh-tokoh itu kepada rakyat. Jelas ini hanya sebuah politik kuno, yang ingin merebut perhatian rakyat. Dan rakyat tetap dibiarkan bodoh untuk tidak belajar terhadap sejarah.

Ternyata apa yang aku pikirkan semua tentang hal itu, saat ini menjadi kenyataan. Mereka-mereka yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat ternyata melenggang menjadi calon wakil presiden. Lalu, apa lagi yang bisa diperbuat untuk itu? dan si M.Pr itu pun terpilih untuk menjadi seorang anggota legislatif dari partai yang berlogo burung Garuda. Aku tak habis pikir. Dan hanya bisa menggumam “kok bisa ya?” Apa yang bisa diharapkan dari mereka-mereka itu. Mereka sepertinya mengusung agenda perubahan, padahal mereka berasal dan berkuasa pada masa lampau. Bagaimana mau mengusung agenda perubahan? Entahlah. Aku hanya bisa bertanya pada “rumput yang bergoyang, mana tahu di sana ada jawabnya,” pikirku.

Ya, inilah negeriku. Negeri yang sangat kucintai dan terkadang juga kumaki. Tempat tumpah darahku sampai mati. Tapi mereka mengotorinya dengan korupsi dan membunuhi. Aku tidak mau putus asa. Karena aku selalu punya harapan. Harapan terhadap kekuatan rakyat. Ya, aku menanti untuk itu. Meski pun itu terjadi 1000 tahun lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s