Numpang memberikan pendapat..

26 September 2008,  Oleh : Kristian Ginting

Tidak ada yang salah dan benar dalam memberikan pendapat. Bahkan jika itu mengenai antara setuju dan tidak soal berkoalisi antarpartai. Karena masing-masing dari kita mempunyai argumen, jadi tidak perlu diperdebatkan. Meski analisa masing-masing pihak kurang mendalam tentang koalisi antarpartai. Yang hanya di jelaskan adalah soal ideologi masing-masing partai tapi tidak dibahas dalam tataran praksisnya. Artinya adalah bahwa partai-partai yang ada tidak pernah konsisten secara ideologi. Bisa dikatakan mbalelo. Secara ideologi religus namun dalam prakteknya bisa nasionalis atau sebagainya. Dan begitu juga sebaliknya.

Misalnya saja PKS yang mengaku memiliki ideologi Islam, dalam prakteknya terkadang cenderung ke tengah (Nasionalis Sekuler). Semuanya tergantung kepentingan dan kebutuhan. Misal ketika pengesahan UU Pronografi, PKS kembali menjadi partai Islam. Itu hanya untuk menonjolkan citra partai kepada publik.

Buat Bung Carlos..

Persolan politik yang ada di Indonesia, kita jangan terjebak dengan isu politik elitis yang ada saat ini. Memang, persoalan yang kita hadapi saat ini adalah terlalu berkembangnya ideologi Ekonomi liberal Fundamental, budaya primordial yang Fundamental, agama yang Fundamental dan lain sebagainya. Inilah yang menjadi kajian dan tugas kita untuk mencegah berkembangnya dampak ideologi tersebut demi terjaganya Republik Indonesia. Kalau kita membahas siapa pendukung Pansus angket BBM dan yang tidak, kemudian pendukung RUU Pornografi dan yang tidak, serta yang lainnya saya kira kita  akan terjebak di permainan politik elitis.

Bahkan saya tidak percaya kepada satu pun dari partai-partai yang ada di DPR sekarang. Apalagi mereka itu termasuk orang-orang yang berperan mendirikan pemerintahan Rezim Militer Orba. Kenapa?persoalannya adalah produk undang-undang tentang energi, migas dan sebagainya itu merupakan produk DPR yang melanggar Konstitusi. Yaitu menyerahkan segala sesuatunya ke Mekanisme Pasar. Selanjutnya mereka bertengkar (Oposisi dan Pemerintah) hanya karena minyak dinaikkan. Walaupun saya secara pribadi turun ke jalan saat menolak kenaikan BBM tersebut di Istana beserta teman-teman yang lain. Bagaimana ini? DPR-nya saja sudah melanggar Konstitusi otomatis Presiden juga tidak takut melanggar Konstitusi. Jadi pertanyaan saya mana yang bisa kita percayai?

Jawaban saya dalam sebuah diskusi mahasiswa lintas kampus cuma satu Revolusi. Apalagi kalau bukan itu, karena para DPR dan eksekutif telah melanggar Konstitusi jadi harus ada pemerintahan baru. Atau dalam bahasa lebih lunak seperti kata Ekonom UGM Revrisond Baswir membatalkan semua UU yang bertentangan dengan Konstitusi oleh Mahkamah Konstitusi. Serta memperteguh kembali semangat Proklamasi dan Revolusi 45. Dan berkomitmen menjalankan Konstitusi demi tercapainya negara kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s