Miniatur Betawi di Setu Babakan

Pernah dipilih oleh Pacifik Asia Travel Association sebagai tempat kunjungan wisata 2002.

oleh Zacky Umam dan Kristian Ginting

Di perkampungan itu, masyarakat Betawi masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi; budidaya ikan dalam keramba, memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi.

Voja pasang kuda-kuda. Tangannya bersiaga, seperti gerakan hendak menangkis dan memukul. Di depannya seorang lelaki yang dijuluki Abang Jampang bergerak lincah, sesekali mulutnya memberikan instruksi. Senin pekan terakhir November silam, murid kelas 2 SD Smart School, Jagakarsa, Jakarta itu, memang berkesempatan berlatih pencak silat, pencak khas Betawi. Sekolahnya mengadakan field trip ke Setu Babakan, di ujung selatan Jakarta Selatan, dan pencak silat Betawi termasuk atraksi yang diajarkan kepada Voja dan 30-an murid Smart School yang lain.

Selesai berlatih silat, murid-murid itu diajak ke sebuah aula besar, pada sebuah rumah khas Betawi. Mereka diajarkan membuat minatur ondel, berbahan shutle cock dan lembaran beludru warna-warni. Menjelang pulang, Voja disuguhi kerak telor.

Setu Babakan yang dikunjungi Voja dan teman-temannya adalah salah satu  cagar wisata Betawi. Luasnya kira-kira 289 hektare, membentak sepanjang Srenseng Sawah di selatan, hingga Jalan M Kahfi II, di utara, Jakarta Selatan.  Pohon nangka, cipedak, durian, rambutan dan jambu masih banyak tumbuh di sini. Dinamakan Setu Babakan, karena tepat di tengah perkampungan itu ada danau yang cukup besar dengan air yang juga cukup bersih. Pada hari Minggu atau hari-hari libur yang lain, tepian setu biasanya penuh dengan orang yang memancing, ikan sepat dan mujair.

 

Di perkampungan itu, masyarakat Betawi masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi, budidaya ikan dalam keramba, memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi. Melalui cara hidup inilah, mereka aktif menjaga lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya. Ada sekitar 3.000 kepala keluarga yang tinggal di kawasan Setu Babakan. Tak semuanya orang Betawi, karena ada juga  para pendatang, seperti pendatang dari Jawa Barat dan Kalimantan yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di sana.

Ide awalnya, Setu Babakan dimaksudkan untuk menebus  kegagalan cagar budaya Condet.  Setia Gunawan, Kepala sub dinas  Pelayanan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, bercerita, daerah Setua Babakan  dipilih karena masih sangat kental dengan nuansa etnik Betawi dan prospeknya sangat baik. Empat tahun menunggu,  pada 2004, Setu Babakan diresmikan sebagai cagar budaya Betawi. Pengelolanya Pemprov DKI Jakarta, bersama satu kelompok masyarakat Betawi.

Sepanjang jalan masuk ke arealnya, di Jalan Kahfi itu, puluhan rumah berarsitektur Betawi terlihat berjajar rapi. Kampung yang khas meskipun sebagian terlihat hanya modifikasi. Di pintu masuk sebuah gapura besar bertulis “Pintu Masuk I Bang Pitung” mecolok mata. Bang Pitung adalah legenda jawara yang sangat populer bagi masyarakat Betawi.

Lalu teruslah berjalan, hingga ke tengah perkampungan di tepi Setu itu, jalan Haji Mali. Di teras   gedung itulah, Voja dan teman-temannya belajar membuat miniatur ondel-ondel. Mulai dari teras gedung sampai ke ruangan tempat para staf pengelola berkantor, semua berornamen Betawi. Jika harus ada yang berbeda dengan rumah-rumah masyarakat Betawi jaman dulu, tak lain karena lantai gedung sudah dilapisi keramik.

Persis di depan gedung pengelola terdapat sebuah panggung besar yang biasa dipakai untuk pertunjukan. Pagelaran yang sering dipertontonkan adalah kesenian khas Betawi, gambang kromo, tanjidor, atau lenong. Di sebelah barat gedung pengelola tampak sebuah bangunan yang disebut “rumah adat dan plaza”. Di depan gedung rumah adat dan plaza merupakan jalan yang langsung menuju Setu Babakan.

 

Ketupat Nyiksa

Jika minat, bisa juga mengitari setu dengan perahu pedal berkepala angsa dan bebek.  Mendayung hingga ke tengah, atau menyapa para pemancing. Di sini, juga bisa bermain  layang-layang dan menerbangkannya, atau belajar pencak silat seperti yang dilakukan Voja. Soal makanan tak perlu kuatir, karena hampir semua makanan khas Betawi ada di sini. Ketupat nyiksa, kerak telor, pecak gurame, soto, nasi uduk dan sebagainya.

Indra, yang bekerja di Setu Babakan bercerita,  pendirian Setu Babakan sebetulnya tidak semata sebagai lokasi tujuan wisata. “Tapi lebih berbenah ke garis pelestarian budaya,” ujarnya.

Di perkampungan Betawi itu masyarakat non-Betawi juga dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh pengelola perkampungan. Ada pula anggota masyarakat yang mendesain rumahnya dengan gaya bangunan etnik Betawi. Ini wujud dari penghargaan mendalam dari penduduk non-Betawi di dalam masyarakat beretnik Betawi. “Ada orang Irian yang desain rumahnya dengan arsitek khas etnik Betawi,” kata Indra.

 

Dengan rata-rata pengunjung sekitar 80 ribuan orang setiap tahun, Setu Babakan mestinya memang berpelung menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik. Untuk keperluan itu, kata Indra, pengelola setu kini mulai juga melakukan penataan prasarana, seperti lahan parkir dan sebagainya. Jika prasarana terpenuhi, Indra memastikan promosi bisa dilaksanakan secara besar-besaran. Dulu pada 2002, Pacifik Asia Travel Association, PATA  memilih Setu Babakan sebagai tempat kunjungan wisata bagi peserta konferensi PATA di Jakarta.

Tahun ini, Pemprov DKI berniat menaikkan anggaran untuk pemeliharaan Setu Babakan, menyusul pencanangan perkampungan budaya Betawi sebagai program unggulan wisata di Jakarta. “Jika (lembaga) legislatif setuju, dana yang dianggarkan untuk tahun 2009 sebesar 24 miliar rupiah,” yakin Gunawan.

Itu dana cukup besar. Tapi menurut JJ Rizal, sejarawan Komunitas Bambu dan pengamat budaya Betawi, Setu Babakan merupakan anugerah sekaligus musibah bagi masyarakat Betawi dalam segala hal, khususnya dilihat dari sudut pandang budaya. Perkampungan itu belum memberikan  dampak perbaikan yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat Betawi. Meskipun, mereka merasakan bahwa mereka mempunyai tempat, tapi sesungguhnya hanya klise “Rancangan dan bangunan di Setu Babakan itu sesungguhnya bukan Betawi, sebuah miniatur yang tidak tepat atau salah,” tambah Rizal.

Menjelang siang, Voja dan anak-anak Smart School itu pulang membawa cindera mata, ondel-ondel mini berbeludru warna-warni.

 

One thought on “Miniatur Betawi di Setu Babakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s