ARMENIAN GENOCIDE – SEJARAH YANG TERLUPAKAN Oleh : Deddy Sukanta Ginting

Tanggal 24 April 1915. Sebuah episode gelap bagi bangsa Armenia. Mereka dipaksa atau terpaksa eksodus, meninggalkan tanah kelahirannya dan menyebar ke 195 negara hingga kini. Imperium Utsmani yang berkuasa sekitar tahun 1300 – 1923 mencaplok sebagian wilayah Armenia. Ustmani Turki memulainya dengan pertempuran di Sisilia tahun 1071.

Genosida 1915

Sejak itu, Utsmani Turki menjajah dan berupaya melakukan “pembersihan” etnik Armenia. Tahun-tahun operasi pembersihan etnik ini terbentang antara 1894 – 1922. Pada tahun 1914, imperium Utsmani Turki mengeluarkan semacam ketentuan. Seluruh laki-laki Armenia yang berusia antara 18 – 60 tahun dimobilisasi, untuk menghadapi perang dunia I.

Mereka dijadikan pasukan tanpa senjata, kemudian dibantai oleh tentara Turki atau komandan mereka sendiri. Puncak genosida itu terjadi pada tanggal 24 April 1915. Kementerian dalam negeri Utsmani Turki memerintahkan untuk menahan pemimpin politik Armenia. Mereka yang dicurigai berkhianat (ribuan orang) dibantai tanpa proses peradilan. Sisanya di deportasi ke Eufrat dan kota Damaskus.

Kondisi waktu itu semakin memburuk. Anak-anak dan wanita ditelantarkan tanpa air dan pangan di gurun pasir. Mereka dibiarkan mati oleh kebiadaban tentara Turki dan orang Kurdi. Penderitaan yang mereka alami luar biasa. Orang Armenia menyebutnya dengan istilah “Golgotha”. Wanita diperkosa dan dibunuh, laki-laki dibantai secara massal. Sisanya mati karena kelaparan, penyakit dan bunuh diri.

Lalu, berapa jumlah korban dalam episode berdarah ini? Perkiraan jumlah korban pembantaian sekitar 1,5 juta rakyat Armenia. Daerah pembantaian meliputi Armenia (Assyiria) di tenggara Turki (Mesopotamia kuno). Anak-anak pun tak luput dari pembantaian itu. Bocah perempuan dijual dan dipaksa menikah dengan orang Kurdi. Yang lainnya kerja paksa membangun rel kereta api, menggali dan memecah batu gunung Tarsus.

Pertanyaannya adalah mengapa sejarah itu kemudian sepertinya dilupakan? Padahal bagi bangsa Armenia episode gelap sejarah itu akan terus diingat oleh rakyatnya. Banyak orang ingin mendapatkan kebenaran sejarah itu. Apa yang terjadi sesungguhnya? Karena belum banyak yang mengetahui tentang sejarah ini, termasuk media. Namun pihak Turki mencoba menutupi dan menyangkal fakta sejarah itu.

Perjuangan Armenia Untuk Keadilan

Perjuangan rakyat Armenia saat ini hanyalah untuk sebuah pengakuan. Dan berharap ditegakkannya keadilan. Harapan itu ternyata membentur batu karang. Penyidikan dilakukan tahun 1919 dan 1921. Terkuaklah rencana dan pelaksanaan operasi genosida itu. Pelaku genosida terbukti dan dinyatakan bersalah.. Namun karena tekanan kaum nasionalis Turki, seluruh proses penyidikan ini dihentikan. Pelaku genosida bebas dari hukuman.

Proses politik, kepentingan dan kekerdilan jiwa mengotori kebenaran sejarah itu. Inggris, juga melakukan penyangkalan (denial) demi aset-asetnya di Turki. Organisasi solidaritas Wales-Armenia berhasil meyakinkan anggota parlemen Inggris untuk Wales. Mereka menandatangani mosi pengakuan genosida Armenia ini. Dan menjadikan isu genosida Armenia menjadi salah satu agenda politik mereka.

Tidak hanya parlemen Inggris untuk Wales. Amerika pun mengakui genosida Armenia. Hal itu terwujud melalui keputusan Senat Amerika tahun 1997. Perancis pun menyusul tahun 2006 dengan menyetujui sebuah RUU. Yang mengatur pengenaan sanksi pidana dan denda kepada setiap orang yang membantah fakta genosida Armenia.

Lantas, bagaimana dengan kita? Berani atau maukah kita mengakuinya? Mengingat banyaknya sejarah gelap dan berdarah negeri kita. Misalnya saja, Kamis hitam 10 Oktober 1996 di Situbondo. Kasus Tanjung Priok, Talangsari, kerusuhan 27 Juli 1996 (kudatuli). Kerusuhan Mei 1998 dan tragedi Trisakti, Semanggi 1 dan 2, Munir dan banyak lagi. Beranikah kita menyuarakan kebenaran? Atau lebih buruk lagi menyangkal peristiwa historis yang mengguncang kemanusiaan itu.

Tidak ada alasan apapun bagi kita membiarkan kebenaran di kebiri sedemikian rupa. Sebagai manusia yang masih memiliki secercah belas kasih kita harus berani menyatakan kebenaran. Apalagi terhadap suatu peristiwa kemanusiaan yang begitu berkesan dan mendalam. Peristiwa yang mempengaruhi keberadaan kita sebagai individu, komunitas dan bagian masyarakat suatu bangsa. Kecuali jika nurani telah mati.

Eksistensi kita sebagai manusia yang memiliki kelebihan membuat kita berbeda dengan mahluk lain. Akal dan pikiran, pengetahuan tentang yang jahat dan yang baik, seyogianya akan mendorong kita untuk melihat dan terus mencari kebenaran. Dengan dukungan bukti yang tidak terbantah dan terdokumentasi dengan baik.

Jadi, kita harus mengambil suatu sikap atau tindakan terhadap suatu peristiwa kemanusiaan. Peristiwa yang memang benar terjadi di depan mata kita. Walau terkadang membawa konsekuensi dan efek tertentu. Tujuannya adalah agar semua kembali ke tatanan idealnya. Bahwa benar adalah benar, dan salah adalah salah. Demi tegaknya keadilan bagi peradaban manusia dimuka bumi ini.

About these ads

7 responses to “ARMENIAN GENOCIDE – SEJARAH YANG TERLUPAKAN Oleh : Deddy Sukanta Ginting

  1. Bagus lhoh,, baru tau ada postingan kayak gini,, makasih banyak ya..

    BTW saia lagi bikin artikel tentang genosida Armenia,, boleh tanya ga sumber” referensi yang Sodara Ginting pake di postingan ini asalnya dari mana,, kayak misalnya data sama fakta”nya gitu. Makasih..

    • Maaf, lama saya tidak membuka email sehingga baru melihat postingan Anda. Tentu boleh saja, dan kalau tidak salah beberapa bulan yang lalu, kasus ini sempat disorot media internasional dan menjadi perbincangan di parlemen Uni Eropa. Hal ini juga dibahas di AS. Kalau boleh tahu, apakah Anda ingin melakukanpenelitian? Sebab, data ini diperoleh oleh saudara saya langsung dari organisasi yang fokus dengan pengakuan terhadap genosida armenia.

      Karena itu, jika Anda mau saya akan mengirimkannya ke jaringan pribadi Anda. terima kasih.

  2. ngaco. kalo iya coba kasih sumber dari mana? korban armenia itu emang konsekuensi perang dunia I. genesoiada yang nyata itu ada di irak, afganistan dan palestina….

    • Saya ada data yang pasti. Kalau Anda mau tahu dan mengikuti perkembangan isu internasional, bukankah itu menjadi pembahasan di parlemen Uni Eropa saat ini? Genosida itu memang tidak hanya di Armenia, seperti yang Anda sebutkan juga terjadi di Irak, Afganistan dan lain sebagainya. Tapi, jangan lupa di negara kita juga terjadi hal serupa. Sehingga dalam tulisan saya, tetap menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran HAM di Indonesia.

      Saya tidak memilah-milah dalam penegakan HAM. Semua yang melakukan pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan harus segera diproses. Apakah itu AS, Israel dan sebagainya. Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah mau membela masyarakat Indonesia yang menjadi pelanggaran HAM? Misalnya korban Kamis hitam 10 Oktober 1996 di Situbondo. Kasus Tanjung Priok, Talangsari, kerusuhan 27 Juli 1996 (kudatuli). Kerusuhan Mei 1998 dan tragedi Trisakti, Semanggi 1 dan 2, korban Lumpur Lapindo dan lain sebagainya.

  3. Ada genocida yang dilakukan VOC /Belanda dan dikubur dalam ingatan bangsa indonesia tetapi tertulis sangat jelas dalam History of Java , Thomas Stanford Raffles dan sejarahwan Hageman yaitu pembununhan wong Blambangan sebanyak 90% persen dari populasi wong Blambangan . Alangkah liciknya Belanda bersembunyi dengan Kantor Pusat HAM …

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s